Minggu, 20 September 2015

Selayang Pandang Mengenai TQN

Thariqat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah/ Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah adalah sebuah nama tharikat yang diberikan oleh Syeikh Khatib Sambasi. Tharikat/Tarekat ini populer dengan sebutan Thariqat Qadiriyah wa Naqsabandiyah atau disingkat TQN.
Syaikh Ahmad Khatib Sambasi adalah putra Kalimantan Selatan yang belajar agama dan bermukim di Mekkah. Ia belajar tasawuf pada guru Sufi Qadiriyah, Syaikh Syamsuddin,sampai mendapat derajat yang tertinggi menggantikan gurunya di Jabal Qubais. Oleh gurunya ia diangkat menjadi "Syaikh Mursyid kamil al Mukammil", kemudian melanjutkan kegiatan gurunya di tempat tersebut sampai mendapat sambutan yang sangat antusias terutama dari para pelajar asal Nusantara sejak awal abad ke 19. 


Pada tahun 1870, ia merumuskan tharikat baru yang disebut TQN. TQN merupakan penggabungan dua tharikat yang berbeda yaitu Qadiriyah dan Naqshabandiyah menjadi metode tersendiri yang praktis untuk menempuh jalan spiritual.
Nama Qadiriyah didahulukan karena silsilah yang digunakan Syeikh Ahmad Khatib Sambas sewaktu mengajarkan tharikat kepada muridnya. Kemudian para murid inilah yang mengembangkan tharikat ini di Indonesia dengan bersumber pada silsilah tharikat Qadiriyah, bukan Naqshabandiyah.
Dalam pengajarannya Syaih Khatib Sambasi tidak mengajarkan dua ajaran tharikat itu secara terpisah melainkan dikemas dalam satu kesatuan yang harus diamalkan secara utuh. Walaupun kedua tharikat itu telah memiliki metode tersendiri dalam ajarannya baik peraturan, prinsip maupun cara pembinaannya. Sehingga bentuk tharikat ini adalah tharikat baru yang berbeda dengan kedua tharikat dasarnya. Qadiriyah lebih mengutamakan dzikir Jahr yang diucapkan secara jelas dan keras dalam menyebutkan kalimat nafyi wal itsbat (kalimat La Ilaha Ilallohu), sementara tharikat Naqshabandi lebih suka pada dzikir yang disampaikan dengan cara lembut dan samar (dzikr Qafiy) pada pelafalan ism adz-Dzat, yaitu Allah-Allah-Allah. 
Ternyata dalam menyempurnakan formulasi tharikatnya, Syaikh Khatib Sambasi menggunakan metode-metode tharikat lainnya, sebagaimana yang ditulis dalam kitab Fath Al Arifin (1) yang menyatakan sebagai berikut :
Semula tharikat kami dibangun di atas rangkaian huruf "Naqthu Jimin".
Huruf Nun = Tharikat Naqshabndiyah
Huruf Qaf = Tharikat Qadiriyah
Huruf Tha = Tharikat Anfasiyah
Huruf Jim = Tharikat al Junaidiyah
Huruf Min = Tharikat al Muwafaqah.
Tharikat Naqshabndiyah berdzikr dalam diam dan menahan nafas, menghadirkan lafadz idmuzzat dalam hati (dan hal ini dilakukan sudah melakukan talqin dan bai'at), Tharikat Qadiriyah berdzikir nyaring,
berdiri dan duduk, Tharikat Anfasiyah berdzikr dengan peredaran nafas dan
Tharikat al Junaidiyah membaca seperti :
Subhanallah, 4.000 kali pada hari Ahad
Al hamdu Lillah , 4.000 kali pada hari Senin
Lailaha Ilallohu, 4.000 kali pada hari Selasa
Allahu Akbar, 4.000 kali pada hari Rabu
Lahaula Wala Quwata Ila Bilah, 4.000 kali pada hari Kamis,
Shalawat pada hari Jumat
Dan Istighfar pada hari Sabtu.
Dan Tharikat al Muwafaqah berwirid dengan Asmaul husna yang bersamaan dengan perhitungan nama (yang mengamalkannya). Tarekat ini disebut Samaniyah yang menghimpun semua tharikat di dalamnya.

Perkembangan di Nusantara
Dalam perkembangannya di Indonesia, tarekat ini disebarkan sejak datangnya murid Syaikh Akhmad Khatib Sambas. Di Kalimantan Barat, tharikat ini disebarkan oleh dua orang muridnya, yaitu Syaikh Nuruddin (Filipina) dan Syaikh Muhammad Saad (Asli Sambas). Syaikh Abdul Karim dari Banten merupakan ulama yang paling banyak berjasa dalam penyebaran TQN di tanah Jawa. Tiba di Banten sekitar 1870-an kemudian beliau mendirikan pesantren sekaligus pusat penyebaran TQN.
Tradisi upacara ritual yang pokok dalam TQN ada 3 hal, yaitu upacara  pembaiatan, upacara manaqiban2), dan upacara khataman. 
Ketiga macam upacara tersebut merupakan berasal dari tharikat Qadiriyah.

Amaliyah TQN :

Talqin Dzikir.
Secara harafiah talqin artinya pelajaran. Jadi, talqin dzikir artinya pelajaran dzikir. Bagi orang yang akan mengikuti TQN harus belajar dzikir terlebih dahulu atau harus baiat terlebih dahulu. Di sini yang mentalqin adalah orang yang berwenang yaitu mursyid, atau oang lain yang mendapatkan kewenangan dari mursyid (disebut wakil talqin).

Dzikir jahr
Dzikir jahr adalah dzikir dengan suara keras, yaitu mengucapkan lafal La Ilaha Illallah baik sendiri maupun bersama dengan suara keras.

Dzikir Khafi
Dzikir khafi adalah dzikir tanpa suara, dilakukan di qalbu, tekniknya harus ditalqin oleh seorang mursyid sebagaimana Rasulullah mentalqin sahabat Abu Bakar, yaitu dengan menutup mata, merapatkan gigi, melipatkan ujung lidah, serta dagu dirapatkan ke arah dagu sebelah kiri, itulah sanubari berdzikir dengan menyebut nama Dzat Allah.

Salat Sunah Rawatib
Salat sunah rawatib yaitu salah sunah yang mengikuti salat fardhu, biasa disebut salat sunah qabliyah dan ba'diyah.

Salat Sunah Nawafil
Salat sunah nawafil ada beberapa macam. Misalnya salat sunah mutlaq, salat sunah jumat, salat sunah awwabin, salat sunah syukur nikmat, salat sunah dhuha, salat istiharah, salat tasbih, salat hajat, salat taubah, salat tahajud, salat syukr wudu, salat sunah tahiyatul masjid, salat sunah li daf'i al bala', salat sunah kifarat al baul, salat sunah bir al wiladaini, salat sunah li hif'i al iman, salat sunah isti'azah, salat sunah isyraq, salat sunah witir dan lain-lain. (2)
Serta beberapa amaliyah lainnya yang insyaAllah akan diuraikan dalam blog ini...

Sumber: 
1. Kitab Fathul Arifin Karya Syaikh Ahmad Khatib Syambas
2. Kitab Ibadah Karya Syaikh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar